![]() |
| Foto: Ketua Umum Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA), I Wayan Darmawan |
JAKARTA, 18 Oktober 2026 – Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) memberi apresiasi tinggi atas capaian ketahanan pangan dan ekonomi biru dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut PEMIRA, keberhasilan swasembada pangan dan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) membuktikan besarnya keberpihakan Presiden kepada petani dan nelayan. Keberpihakan itu tercermin dalam Asta Cita kedua.
Deklarator PEMIRA, I Wayan Darmawan, mengatakan capaian sektor pangan adalah lompatan bersejarah. Pemerintah mencatat Indonesia tidak mengimpor beras sepanjang 2025. Per 11 Oktober 2026, stok fisik Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melampaui 4,6 juta ton. Pada tanggal yang sama, pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog mencapai 4,13 juta ton atau 103,29 persen dari target. Angka ini tertinggi sepanjang sejarah Bulog, melampaui rekor 3,65 juta ton pada 2012.
“Dulu kita cemas setiap musim paceklik. Hari ini lumbung negara penuh, dan beras itu dibeli dari keringat petani kita sendiri, bukan dari luar negeri. Ini bukti komitmen Presiden Prabowo kepada petani,” ujar I Wayan Darmawan di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Menurut data Badan Pangan Nasional, delapan komoditas kini berstatus swasembada: beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Proyeksi total produksi kedelapan komoditas itu mencapai 72,91 juta ton, di atas kebutuhan nasional sebesar 68,22 juta ton. Surplusnya sekitar 4,69 juta ton.
Kesejahteraan petani ikut membaik. Nilai Tukar Petani (NTP) naik dari 104 pada 2024 menjadi 127,73 pada Juni 2026.
Kemajuan serupa terjadi di sektor kelautan dan perikanan. Pemerintah merampungkan 100 KNMP tahap pertama di 25 provinsi. Presiden Prabowo menargetkan sekitar 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih beroperasi hingga akhir Desember 2026. Setiap kampung dilengkapi cold storage, pabrik es, SPBU nelayan, tambatan perahu, bengkel kapal, dan sentra kuliner.
Dampaknya sudah terasa. Di Kampung Samber-Binyeri, Biak Numfor, Papua, yang menjadi percontohan nasional, pendapatan nelayan naik 75 persen, dari Rp4,35 juta menjadi Rp7,73 juta per bulan. Produktivitas tangkapan meningkat 101 persen, sedangkan jenis lapangan kerja bertambah dari 2 menjadi 12. Pemerintah menargetkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik dari sekitar 103 menjadi di atas 120.
“Masalah nelayan selama ini bukan soal menangkap ikan, tetapi ikan harus cepat dijual murah karena tidak ada pendingin dan pabrik es. Kampung Nelayan Merah Putih menjawab persoalan itu dari hulu ke hilir. Inilah ekonomi biru yang nyata dan berpihak pada rakyat pesisir,” kata Wayan.
PEMIRA menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan implementasi Asta Cita. Para pemuda akan terjun ke pertanian modern dan perikanan, membawa teknologi ke desa dan kampung nelayan, serta ikut mengawal agar program tepat sasaran.
“Presiden sudah membuka jalannya. Tugas pemuda adalah mengisinya dengan ilmu, inovasi, dan kerja keras. Dari sawah dan laut kita bangun Indonesia Emas 2045,” pungkasnya


